Berita  

Klaim Tanda Kesejahteraan Meningkat, Penyaluran Bantuan Ramadan 1447H Turun

Surabaya, tintajatim.com – Ramadan biasanya menjadi momen meningkatnya bantuan sosial. Jumlah penerima santunan umumnya melonjak, seiring naiknya kepedulian dan kebutuhan masyarakat.

Namun yang terjadi di Surabaya tahun ini justru berbeda.

Alih-alih bertambah, jumlah anak yatim penerima santunan malah turun drastis.

Penurunan ini terungkap dalam kegiatan santunan yatim dan buka puasa bersama yang digelar pada Selasa (17/3/2026). Dalam kesempatan tersebut, Anggota Komisi B DPRD Kota Surabaya, Budi Leksono, membeberkan data yang cukup mengejutkan.

Jika sebelumnya jumlah penerima santunan mencapai sekitar 600 anak, kini hanya tersisa sekitar 150 anak yatim. Sementara itu, jumlah penerima dari kalangan warga umum (terutama para janda) tercatat sekitar 300 orang.

Perubahan ini tentu memunculkan pertanyaan.

Di saat Ramadan identik dengan meningkatnya kebutuhan bantuan, mengapa jumlah penerima justru menurun?

Menanggapi hal tersebut, Budi Leksono justru melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Ia menilai penurunan ini sebagai indikator positif bagi kondisi sosial ekonomi masyarakat.

“Kalau jumlahnya berkurang, itu artinya doa kita dikabulkan. Ini tanda kesejahteraan masyarakat meningkat,” ujarnya.

Lebih jauh, ia bahkan berharap tren ini terus berlanjut di tahun-tahun mendatang—bukan karena berkurangnya kepedulian, melainkan karena semakin sedikit warga yang membutuhkan bantuan.

Penjelasan tersebut tidak lepas dari sejumlah faktor yang disebut berkontribusi. Salah satunya adalah proses pemutakhiran data penerima yang kini lebih ketat, sehingga bantuan menjadi lebih tepat sasaran.

Di sisi lain, intervensi melalui program sosial dan pendidikan juga dinilai memberi dampak. Program seperti Program Indonesia Pintar (PIP), misalnya, disebut mampu menekan angka putus sekolah yang selama ini menjadi salah satu akar persoalan kemiskinan.

Dengan kata lain, pendekatan yang lebih sistematis mulai menunjukkan hasil, setidaknya dari sisi data yang ada.

Meski demikian, dinamika ini tetap menyisakan ruang tafsir. Di satu sisi, penurunan jumlah penerima santunan dapat dibaca sebagai tanda meningkatnya kesejahteraan. Namun di sisi lain, muncul pula pertanyaan mengenai apakah perubahan ini sepenuhnya mencerminkan kondisi riil di lapangan, atau dipengaruhi oleh metode pendataan yang berbeda.

Pertanyaan tersebut menjadi wajar, mengingat data bantuan sosial kerap menjadi salah satu indikator penting dalam membaca kondisi ekonomi masyarakat.

Budi sendiri menegaskan bahwa perubahan ini tidak hanya terlihat dari angka, tetapi juga dari cerita di baliknya.

Ia menyebut, sejumlah anak yang sebelumnya menerima santunan kini telah beranjak mandiri. Bahkan, ada yang sudah mampu membuka usaha kecil dan tidak lagi bergantung pada bantuan.

“Harapannya, mereka yang dulu dibantu, sekarang bisa membantu orang lain,” katanya.

Pernyataan ini memberi gambaran bahwa transformasi sosial memang mulai terjadi, meski skalanya masih terus berkembang.

Di luar isu sosial, perhatian juga diarahkan pada situasi menjelang Lebaran. Budi mengingatkan bahwa perubahan pola aktivitas masyarakat di penghujung Ramadan berpotensi memunculkan kerawanan baru.

Mobilitas warga yang meningkat, pusat perbelanjaan yang mulai padat, serta banyaknya rumah kosong yang ditinggal mudik menjadi faktor yang perlu diwaspadai.

“Ini titik rawan yang harus kita antisipasi bersama,” ujarnya.

Sementara itu, dari sisi kebutuhan pokok, kondisi di Surabaya relatif terkendali. Berdasarkan pemantauan di sejumlah pasar tradisional, stok bahan pangan dipastikan aman hingga Lebaran.

Kenaikan harga yang terjadi disebut masih dalam batas wajar dan lebih dipengaruhi oleh faktor distribusi.

“Yang paling penting stok tersedia, masyarakat tidak kesulitan merayakan Lebaran,” tegasnya.

Pada akhirnya, fenomena penurunan jumlah penerima santunan ini menghadirkan dua sudut pandang yang berjalan beriringan. Di satu sisi, ada optimisme bahwa kesejahteraan masyarakat mulai meningkat. Namun di sisi lain, tetap ada kebutuhan untuk memastikan bahwa data yang ada benar-benar mencerminkan kondisi di lapangan.

Di tengah suasana Ramadan yang penuh makna, perubahan angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dinamika sosial yang terus bergerak dan perlu dicermati bersama./adv