INSA Apresiasi Kapal Penolong usai Kebakaran KM Mutiara Sentosa II, Usul Armada Rescue Diperkuat

Surabaya, tintajatim.com – Dewan Pimpinan Pusat Indonesian National Shipowners’ Association (DPP INSA) menyampaikan duka cita atas musibah kebakaran KM Mutiara Sentosa II di perairan utara Sumenep, Madura, Minggu (2/8/2026). Selain menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban, INSA juga mengapresiasi kapal-kapal yang bergerak cepat melakukan penyelamatan penumpang.

Wakil Ketua Bidang Ro-Ro dan Car DPP INSA, Rakhmatika Ardianto, mengatakan awak KM Mutiara Sentosa II telah berupaya menangani kondisi darurat dan mengevakuasi penumpang semaksimal mungkin.

“Para penumpang terlihat telah menggunakan jaket keselamatan dan berkumpul di bagian kapal yang masih memungkinkan untuk menunggu proses evakuasi. Namun, penilaian secara menyeluruh mengenai pelaksanaan prosedur keselamatan tetap harus menunggu hasil investigasi resmi,” kata Rakhmatika, Senin (3/8/2026).

INSA memberikan apresiasi kepada sejumlah kapal niaga yang menjadi penolong pertama di lokasi kejadian, di antaranya KM Meratus Pematang Siantar, TB Hasnur 26, KM Transco Arafura, KM Meratus Project 3, KM Icon Daniel, KM Selaras Mas, KM Prakarsa Mas, KM SC Aila XVII, dan KM British Mentor.

Tak hanya itu, penghargaan juga diberikan kepada tim SAR gabungan yang terlibat dalam operasi penyelamatan, seperti Basarnas, KPLP, TNI Angkatan Laut, Polri, syahbandar, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, serta unsur terkait lainnya, termasuk KN SAR 249 Permadi, KN Grantin P.211, KN Masalembo, KRI Nala-363, dan KRI Bung Hatta-370.

Meski demikian, INSA menilai insiden tersebut harus menjadi momentum evaluasi bersama untuk memperkuat sistem penyelamatan di laut, khususnya terkait kecepatan respons saat terjadi keadaan darurat.

Menurut Rakhmatika, pemerintah perlu melakukan pemetaan risiko dan menempatkan kapal-kapal penyelamat milik Basarnas, KPLP, maupun unsur penjagaan laut lainnya di titik-titik strategis, terutama di jalur pelayaran padat dan wilayah perairan yang jauh dari pangkalan utama.

“Dalam keadaan darurat di tengah laut, kecepatan respons sangat menentukan keselamatan manusia. Karena itu, perlu dilakukan pemetaan risiko dan penempatan kapal rescue yang lebih dekat dengan jalur-jalur pelayaran sehingga waktu tanggap dapat semakin dipercepat,” ujarnya.

Ia menegaskan kapal-kapal niaga yang berada paling dekat memang akan selalu menjadi penolong pertama. Namun, armada penyelamat milik pemerintah juga harus mampu menjangkau lokasi kejadian dalam waktu sesingkat mungkin.

Selain mendorong penguatan sistem penyelamatan, INSA juga meminta perusahaan asuransi dan seluruh pihak penjamin bergerak proaktif membantu para korban.

Rakhmatika berharap proses pendataan, administrasi, hingga pencairan santunan dan klaim asuransi dapat dilakukan lebih cepat, baik bagi korban meninggal dunia, korban luka, maupun pemilik kendaraan dan barang yang mengalami kerusakan atau kehilangan.

“Para korban dan keluarganya sedang menghadapi kondisi yang sangat berat. Jangan sampai mereka kembali dibebani oleh proses birokrasi klaim yang panjang. Hak-hak korban harus diselesaikan dengan cepat, transparan, dan penuh rasa kemanusiaan,” tegasnya.

INSA berharap evaluasi menyeluruh atas insiden kebakaran KM Mutiara Sentosa II dapat menghasilkan perbaikan sistem keselamatan pelayaran nasional, sehingga penanganan keadaan darurat di laut ke depan menjadi lebih cepat, terkoordinasi, dan mampu meminimalkan risiko jatuhnya korban.